kusaksikan dirimu hadir di alam ini
dalam jeritan dan rintihan
aku menangis
aku tertawa
kusaksikan dirimu tumbuh giat
dalam buaian mimpi dan angan
aku bahagia
aku sedih
anakku
jadilah anakku
jadilah tidak sepertiku
jadilah melampauiku
anakku
karena aku takkan pernah iri padamu
karena aku takkan pernah membencimu
karena aku ada dalam dirimu
alief ahsan aditya
15 Mei 2002
Pernah dengar slogan American Dream? Ini cerita
kekonyolan orang Amerika soal mimpi-mimpinya
ketika datang ke Medan.
Seorang bisnisman Amerika sedang berdiri di
dermaga kecil Belawan, Sumut ketika sebuah
kapal boat nelayan kecil yang hanya berisi seorang
nelayan berlabuh. Di dalam kapal kecil itu ada
beberapa ikan Tongkol besar. Orang Amerika itu
memuji kualitas ikan yang berhasil ditangkap
nelayan Melayu itu.
“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk
menangkapnya?” kata si Amerika.
“Cuma sekejab lah,” jawab si nelayan.
“Kenapa anda tidak menunggu lebih lama dan
menangkap lebih banyak ikan?” tanya si Amerika.
“Ini pun udah cukup kali untuk memenuhi
kebutuhan keluarga ku saat ini,” kata si nelayan
lagi.
“Tapi..” kata si Amerika bertanya lagi, “Lalu apa
yang anda kerjakan dengan waktu sisanya?”
Nelayan itu menjawab, “Tidur ku lambat,
menangkap sedikit ikan, bermain-main dengan
anak-anak, bercengkrama dengan isteriku. Jalan-
jalan keliling kampung, ngaji, cakap-cakap di
warung kopi sambil minum kopi pahit.”
Si Amerika mencela,”Saya ini MBA dari Harvard,
dan bisa membantu Anda. Anda seharusnya
menghabiskan waktu lebih lama lagi dalam
menangkap ikan. Dan dari pendapatan yang
dihasilkannya anda belikan boat yang lebih besar,
dan dari pendapatan boat yang lebih besar
tersebut anda bisa membeli beberapa boat lagi.
Sehingga akhirnya anda akan memiliki armada
kapal nelayan. Bahkan daripada menjual
tangkapanmu kepada (pedagang) pengumpul,
lebih baik anda menjualnya langsung pada
konsumen,dan akhirnya anda pun bisa membuka
pabrik sendiri. Anda akan menguasai dan
mengontrol produk, pemrosesan dan
distribusinya. Selanjutnya anda perlu
meninggalkan kampung nelayan kecil ini dan
pindah ke Jakarta, lalu kemudian ke Singapura,
kemudian ke LA, dan akhirnya ke New York
dimana anda dapat melesat,mengembangkan
bisnis mu.
Nelayan Melayu itu kemudian bertanya, ˜Tapi
tuan, berapa lama semua itu dapat dicapai?”
Si Amerika menjawab, “Sekitar 15-20 tahun.”
“Lalu setelah itu ngapain tuan?” tanya si nelayan.
Si Amerika tertawa terpingkal-pingkal dan
berkata,”Disitulah bagian terpentingnya. Jika
waktunya sudah tepat anda bisa mendaftarkan
dan mengumumkannya di bursa saham (IPO/
Initial Public Offering) dan menjual saham
perusahaan anda ke publik sehingga anda
menjadi sangat kaya, anda akan menghasilkan
milyaran. Miyaran!”
“Lalu ngapain?” tanya si nelayan lagi.
Si pebisnis Amerika itu berkata perlahan,
“Kemudian anda bisa pensiun. Pindah ke desa
pantai kecil dimana anda bisa tidur larut malam,
menangkap sedikit ikan,
bermain-main dengan anak-anakmu,
bercengkrama dengan isterimu. Setiap malam
jalan-jalan keliling desa, ngobrol-ngobrol di
warung kopi sambil minum kopi,” kata si Amerika
itu.
“Oooooo, terimakasih saya sudah dapat itu semua
tanpa harus menunggu 15-20 tahun,” kata si
nelayan.
Sejak kembali ke Medan, kota kelahiran saya, tiga
tahun lalu, saya heran dengan fenomena
maraknya papan bunga di kota ini. Jika ketika
tahun 2000 saya pergi meninggalkan Medan, saya
merasakan papan bunga yang biasanya dikirim
sebagai pengganti ketidakhadiran sang pengirim
dalam sebuah acara, biasa-biasa saja. Artinya tak
ada fenomena yang menarik dari papan bunga ini.
Nah, kini saya semakin tak tahan soal papan-
papan bunga ini.
Ihwal papan bunga ini saya punya banyak cerita.
Ketika menjadi ketua panitia sebuah acara
seminar, saya sempat ditanya salah seorang
panitia.
“Pak, apakah kita tidak seharusnya meminta
kiriman papan bunga?” kata anggota saya.
“Buat apa?” saya bertanya.
“Ya agar kelihatan ramai saja, pak.”
“Ah nggak usahlah, buat apa,” kata saya lagi.
“Atau kita bayar saja pak. Ntar dikirim atas nama
orang lain.”
“Waduh….yang itu malah lebih nggak usah,” tegas
saya.
Papan bunga dan bisnis yang menjadi bagian
didalamnya kini menjadi tren di Kota Medan.
Lihatlah, ratusan bahkan ribuan UKM papan
bunga tumbuh. Ini karena rasa ego orang Medan
atau orang Sumatera yang merasa lebih hebat jika
sudah bisa mengirimkan papan bunga atau
mendapatkan ucapan papan bunga sebanyak
mungkin.
Pernah saya iseng (ketika mendatangi
acara pesta kawin) menghitung berapa banyak
papan bunga yang dikirim dalam acara ini.
Jumlahnya cukup fantastis, bisa mencapai 200
buah. Jika dikalikan saja setiap papan bunga
berharga Rp 100 ribu maka dana yang terkumpul
untuk papan bunga itu Rp 20 juta. Fantastis
bukan. Nah, yang menggelikan lagi, ketika ada
seorang teman yang punya sebuah acara dan
bercerita dengan bangga soal jumlah papan
bunga yang didapatnya dari teman-temannya.
Saya tak habis pikir, apa yang perlu dibanggakan
dari jumlah memperoleh papan bunga sebanyak-
banyaknya itu. Ini menurut kesimpulan saya
merupakan tradisi pamer para kaum urban.
Pamer karena dengan papan bunga yang banyak
menunjukkan bahwa si pembuat acara
merupakan tokoh atau seorang yang punya
banyak teman. Urban karena biasanya fenomena
ini makin kuat jika di daerah pinggiran kota
Medan. Walaupun tak menutup kemungkinan di
kompleks perumahan saya di Komplek Setia Budi
Indah, banyak juga orang yang bangga dengan
papan bunga yang hadir ke rumahnya ketika ada
hajatan. Aneh….
Soal lain papan bunga ini adalah ketika saya kini
mulai sering di todong mengirimkan papan
bunga. Awalnya, persoalan yang muncul adalah
soal dana. Bayangkan saja kalau dalam satu
bulan, saya harus mengirimkan empat papan
bunga. Maka uang yang harus dikeluarkan sekitar
Rp 400 ribu. Tapi sudahlah, saya kemudian
menganggap itu merupakan investasi berteman.
Persoalan lain yang muncul adalah saya harus
menulis apa dan sebagai apa di papan bunga itu.
Biasanya kan orang-orang akan menulis begini;
dari: Syamsul Arifin (Gubernur Sumut) atau dari:
Gatot Pudjonugroho (Wagubsu)> Nah, saya
pernah ditanya seorang pengusaha papan bunga
ketika hendak mengirim papan bunga.
“Ini mau dikirim dari siapa, pak?” tanyanya.
Saya kebingungan. Iya ya, dikirim dari siapa?
tanya saya dalam hati.
“Ya dikirim dari Aulia Andri,” jawab saya sejurus
kemudian.
“Aulia Andri itu apa jabatannya pak?” tanyanya
lagi.
Saya makin kebingungan.
“Aulia Andri, dosen Unimed saja,” balas saya lagi.
“Waduh….kalau itu sih terlalu umum pak. Yang
lebih spesifik. Kan kalau Aulia Andri mungkin
banyak yang jadi dosen Unimed. Bapak nggak punya jabatan rupanya?”
Sialan ini pengusaha papan bunga. Saya jadi
sewot. Saya memang tak punya jabatan apa-apa.
Saya cuma berprofesi sebagai dosen dan lebih
banyak bekerja sebagai pekerja lepas.
Gara-gara pertanyaan pengusaha papan bunga
itu, saya kemudian urung mengirimkan papan
bunga ke acara pesta perkawinan rekan saya.
Akhirnya setelah beberapa bulan, saya terpaksa
lagi berurusan dengan pengusaha papan bunga.
Kali ini agak aneh.
“Ini papan bunga mau ditulis dari siapa pak?”
tanya pengusaha itu lagi.
“Dari Aulia Andri, Hamba Allah!” kata saya
mantap.
“Hah….belum pernah saya buat yang seperti itu
pak. Lagi pula kayak cuma bapak pun yang hamba
Allah,” kata pengusaha papan bunga itu.
“Jadi apa?”
“Yang lain lah pak,”
“Ya sudah, kau buat dari Aulia Andri, Rakyat
Indonesia.”
“Walah….itu juga sama saja pak. Banyak kali
rakyat Indonesia yang namanya Aulia Andri.”
“Ya sudahlah, kau tulis saja dari Aulia Andri,
Warga Kota Medan.”
“Sama saja lah pak. Masih terlalu banyak.”
“Ah macam betul saja pun kau,” saya mulai
marah.
“Ya sudah, bagaimana kalau kita buat saja dari
Aulia Andri, Calon Walikota Medan,” tawar
pengusaha papan bunga itu.
“Hussss….ngawur…..ntar ada yang sudah mau
calon merasa tersaingi. Ya sudah, tak jadi lah
membuat papan bunga. Repot,” kata saya.
Dan akhirnya saya terpaksa menebus rasa
bersalah karena tidak mengirimkan papan bunga
kepada teman saya (yang wartawan) itu.
Ditulis bbrp tahun lalu
Ruang makan saya sangatlah sederhana. Cuma
berisi sebuah meja kayu dan tiga buah kursi (juga
kayu). Di ruang makan itu, saya selalu
menghabiskan waktu bercengkrama dan bercerita
dengan anak lelaki saya (Alief). Biasanya, ketika
waktu makan pagi, kami berdua duduk sambil
bercerita tentang banyak hal.
Di ruang makan yang sempit itu, saya dan Alief
merasakan aura keluasan. Saya menggantungkan
sebuah peta dunia di sisi kanan meja makan.
Kadang, sambil makan, kami bercerita tentang
dunia. Tentang tempat-tempat indah di bumi
ciptaan Allah ini. Saya acap kali meminta Alief
untuk mencari sebuah tempat. Suatu waktu, saya
memintanya mencari Nice, sebuah kota di
Perancis. Atau suatu saat lagi saya memintanya
mencari Mekkah, kota suci dambaan seluruh
ummat Islam.
Begitulah, ruang makan kami yang sempit dan
sederhana, telah berubah menjadi sangat luas.
Saya bercerita pada Alief tentang sejarah Perancis,
Inggris dan juga Amerika. Ketika menyantap
hidangan, kami seolah terbang menuju tempat-
tempat eksotis di bumi ini. Makan di puncak
piramida di Mesir. Atau kemudian singgah di
Pantai Waikiki di Hawaii untuk menyantap sambal
ikan teri kesenangan kami berdua.
Teman-teman, bukan kah hidup begitu indah.
Coba lah meletakkan peta di ruang makan anda.
Nanti kita akan bisa bercerita tentang banyak
tempat ketika saya berkunjung ke sana. Selamat
pagi!
3 November 2009
“Persahabatan diwarnai dengan berbagai
pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan,
dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah
sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian”.
Saya menggenggam kata-kata itu dalam setiap
persahabatan yang saya jalani.
Sepanjang hidup,saya telah banyak kehilangan sahabat. Ada sahabat yang pergi karena habisnya usia. Ada sahabat yang pergi karena jarak yang terbentang.
Ada sahabat yang pergi karena rasa benci dan
muak.
Saya menerima itu semua dengan
keikhlasan. Sahabat-sahabat saya datang dan
pergi. Mereka membuat saya semakin dewasa.
Semakin memahami apa itu arti persahabatan.
Saya pernah bilang bahwa, sahabat adalah
seseorang yang ketika ia meminta sesuatu, kita
tidak akan pernah kehilangan. Dan ketika kita
memberi sesuatu padanya, maka kita merasa
bertambah kaya.
Bagi saya, seorang sahabat tidak akan
menyembunyikan kesalahan untuk menghindari
perselisihan, justru karena kasihnya ia
memberanikan diri menegur apa adanya. Bagi
saya, sahabat tidak akan pernah membungkus
pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa
yang amat menyakitkan dengan tujuan
sahabatnya mau berubah.
Persahabat merupakan sebuah proses panjang.
Diperlukan kesetiaan untuk memelihara
persahabatan. Maka itu, kerinduan adalah bagian
dari persahabatan. Tidak ada persahabatan yang
diawali dengan sikap egoistis dan curiga. Tapi
sungguh, banyak orang yang tak menikmati
indahnya persahabatan. Justru banyak orang yang
hancur karena dikhianati sahabatnya. Tetapi saya
telah menemukan sahabat-sahabat sejati.
Sahabat-sahabat seperti empat sahabat nabi yang
tangguh dan setia itu. Namun, seperti yang saya
sebutkan diatas, saya harus akui, tak semua orang
bisa seberuntung saya. Menemukan sahabat-
sahabat seperti kalian. Terimakasih para sahabat.
Pagi-pagi seorang teman mengeluhkan rumah
tangganya yang menurutnya sulit untuk
dipertahankan lagi, padahal perkawinannya baru
seumur jagung– katanya saya tempat yang tepat
untuk curhat–mengingat badai yang pernah saya
alami. Wikimuers, tidak mudah memberi nasehat
kepada seseorang yg sedang mengalami masalah
dalam rumah tangganya– saya punya resepnya–
mungkin sulit tapi cuma ini yang bisa saya lakukan
untuk teman tercinta:
Langkahnya adalah identifikasi tipe yang manakah
rumah tangga kita:
1. TIPE PASAR ; tiap hari rumah tangga ini selalu
ribut masalah uang belanja, bangun tidur nanyain
uang belanja, suami pulang kerja diminta setor
uang belanja, mau tidur mikir besok mau belanja
apa..UANG..UANG..selalu jadi topik hangat di
rumah ini; uang sekolah belum dibayar; uang
arisan; uang kreditan panci; dan uang lain-lain
2. TIPE HOTEL; berangkat pagi-pagi pulang sudah
malem langsung ‘bobo’, ketemu anak di garasi
‘good morning, have a nice day’..cipika-cipiki..
Di kulkas ada pos it note : “Daddy, jgn lupa besok
ada father day di sekolah, daddy bisa dateng
khan?”..atau “hney, aku pulang malem jangan di
tunggu ya–love u–”. Anak pulang sekolah didapati
suasana sepi, sedikit gaduh ketika orangtuanya
pulang–hari sudah larut–sedikit bicara, waktunya
tidur besok ada agenda rapat penting dg klien–
oops..ternyata daddy lupa hari ini father day
disekolah–
3. TIPE RING TINJU; salah dikit keplak, salah dikit
banting piring, salah omong ditinju, masak gak
enak ditendang, komentar dikit di jedotin..
4. TIPE PEMBURU BERITA; Mama ada di mana?
Sama siapa? Papa kok belum pulang lagi ngapain
sih, rapatnya lama banget–ada uangnya gak–kalo
gak ada uangnya gak usah ngobyek di luar–
(versi infotainment sekitar tahun 1980-1993)
1. Aku Cinta… Anda Cinta, Buatan Indonesia. ….
Ah…….(lagu diakhir acara Apresiasi Film
Indonesia)
2. SA… FA….RI… SAFARI!!!!
(ini jingle acara Aneka Ria Safari. Pembaca
acaranya Edi Sut)
3. Gita Remaja (Nah…kalau yang ini acara anak
muda jaman dulu (jadul) yang dibawakan oleh
Tantowi Yahya)
4. Film Dono-Kasino-Indro (Belakang Kena, Muka
Kena, salah satu film yang pernah saya tonton)
5. Saur Sepuh, Arya Kamandanu, Kerajaan
Madangkara, Ibuku Malang Ibuku Sayang,
Baskoro, dan lain-lain (Ini semua sandiwara radio
yang ngetop di jamannya)
6. Losmen (Drama televisi yang pemerannya
Mathias Muchus dan Dewi Yul)
7. Oshin (Drama televisi dari Jepang yang bisa
memaksa emak-emak nonton tivi)
8. Catatan Si Boy dan Merpati Tak Pernah Ingkar
Janji (Film-film yang sempat saya tonton di
bioskop)
9. Film Akhir Pekan…..(Alamak, ini merupakan
acara yang paling saya tunggu kalau sudah malam
minggu)
10. Ria Jenaka (Ini acara “topeng monyet” yang
pemerannya ada Ateng, Iskak dan lain-lainnya)
11. Majalah Bobo, Ananda, Aneka Ria, Gadis dan
Mode (Majalah-majalah yang ngetop di jamannya.
Saya hampir rutin membaca majalah-majalah ini)
12. Abdullah Harahap, Mira W, Motinggo Busye,
Lima Sekawan Enid Bliton, Hawkeye, Lupus,
Catatan Si Roy, Wiro Sableng, Mahesa Jenar, Nick
Carter, Ani Arrow (Pengarang dan buku-buku
yang pernah saya baca dan nikmati jaman dulu)
Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan
tidak berakhir bahagia ? Ibu saya adalah seorang
yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya
dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga.
Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang
panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak
baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi
untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam
masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan
begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.
Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan
menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa
dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan
lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di
rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat
tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski
berjalan dengan kaki telanjang.
Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.
Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan
yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak
hanya sekali saja
ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam
perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang
bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak
minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan,
setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan
saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah
anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak,
ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung
jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi
dalam pelajaran.
Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-
buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki
yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar
seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan
mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang
pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan
saya,kerap kali saya melihat ibu menangis terisak
secara diam diam di sudut halaman. Ayah
menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu
dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani
dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan,
aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan
dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus
merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka
layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah
di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui
dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh
dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku
sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak
diiringi dengan perkawinan yang bahagia?
Pengorbanan yang dianggap benar.
Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia
perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun
mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal
perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha
menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan
membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh
berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan
suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.
Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih,
masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya
membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan
sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap
saja tidak bahagia.
.
Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk
membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku,
temani aku sejenak mendengar alunan musik!
Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa
tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang
belum di pel ?
Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun
termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di
telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu
juga kerap berkata begitu sama ayah.
Saya sedang mempertunjukkan kembali
perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang
kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan
mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam
hati saya.
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu
memandang suamiku, dan teringat akan ayah
saya. Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang
dia inginkan dalam perkawinannya. Waktu ibu
menyikat panci lebih lama daripada
menemaninya.
Terus menerus mengerjakan urusan rumah
tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan
perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang
bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk
mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah
dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan
urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha
mencintai suamiku. cara saya juga sama seperti
ibu, perkawinan saya sepertinya tengah
melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang
yang baik mengapa tidak diiringi dengan
perkawinan yang bahagia. Kesadaran saya
membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang
sama.
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk
di sisi suami, menemaninya mendengar musik,
dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di
atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau
butuhkan ?
Aku membutuhkanmu untuk menemaniku
mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-
apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu,
dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar
suamiku.
Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang
memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu.
Dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal
yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah!
ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau
bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya
lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya
terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan
masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia
juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-
sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana
mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.
Jalan kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar
kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja
buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga
menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas,
seperti misalnya, waktu senggang menemani
pihak kedua mendengar musik, saling memeluk
kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan
selamat jalan bila berangkat.
Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada
juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku,
jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan
suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang
akan merasa dirinya akan tampak seperti orang
bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah
gengsi laki-laki.
Saya juga meniru suami tidak memberikan usul,
kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya
hanya boleh mendengar dengan serius, menurut
sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.
Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit
dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada
mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami
ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari
semakin penuh daya hidup.
Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang
gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik
ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang
perjalanan keluar kota.
Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal
bersama dan kebutuhan kami, setiap ada
pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu
bisa menghibur gejolak hati masing-masing.
Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai
juga dikarenakan kesukaan kami pada taman
flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah
perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke
dalam suasana hati yang saling mencintai
bertahun-tahun silam.
Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau
inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan
sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan.
Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak
bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras
menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak
kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara
pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati,
namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya,
akhirnya ketika menghadapi penantian
perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan
hancur.
Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan,
maka menurut saya, setiap orang pantas dan
layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia,
asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi
orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya
memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan
yang baik, pasti dapat diharapkan.
dikirim oleh Mohammad Ramdan dan dikutip
dari milis LISI
1. Menyesal: “Maafkan aku ya.”
2. Akan Menyesal: “Maaf, kami tidak bertanggung
jawab terhadap resiko kehilangan kenderaan
Anda.”
3. Khilaf: “Maafkan aku, dik. Aku tak akan
selingkuh lagi.”
4. Sudah Berubah: “Maafkan aku, yang lalu
biarlah berlalu.”
5. Ampun: “Tiada maaf bagimu!”
6. Tak Akan Mengulanginya: “Sumpah mati,
maafkan saya sekali ini.”
7. Tidak Sengaja: “Awas! Brukkk! Maaf!”
8. Tidak Tahu Salah atau Benar: “Mohon Maaf
Lahir Batin.”
9. Ada Gangguan: “Maaf! Perjalanan anda
terganggu karena ada perbaikan jalan.”
10. Abaikanlah: “Wahai kekasih, maafkanlah
segala salah kanda.”
11. Cuek: “Maaf!Gue sering ngrem mendadak.”
12. Usaha Sopan, tapi Tidak Boleh Dilakukan:
“Maaf!Dilarang Merokok!”
13. Biar Urusan Lancar: “Maaf, pengertian dong.
Uang rokoknya mana?”
14. Memaksa: “Maaf! Gue baru keluar dari
penjara. Butuh makan. Serahkan barang-barang
Anda!”
15. Bingung: “Maaf! Kok jalan di depan Istana
Negara sering ada demo?”
16. Pasrah: “Maaf. Gue memang harus
melakukan ini.”
17. Jangan Ngotot: “Maaf! Anda ini kok tidak bisa
memaafkan orang lain sih?”
18. Buru-Buru: “Maaf! Gue kebelet.”
19. Batasan Usia: Maaf, hanya untuk usia 17
tahun ke atas
20. Kehabisan Ide: Maaf! Gue nggak tahu lagi
harus nulis apa.”
Aulia Andri
Kalau bung mengaku sudah pernah ke Medan dan
tak mendengar nama Tjong A Fie, artinya bung
cuma ke setengah Medan. Bung berarti belum ke
Kesawan —kalau di peta nama resminya Jalan
Ahmad Yani. Di sana ada puluhan bangunan kuno,
tapi satu yang termegah milik Tjong A Fie.
Bangunan megah itu berdiri sejak akhir tahun
1800-an dengan arsitektur bergaya Tiongkok
kuno. Istana itu dan pemiliknya, Tjong A Fie,
adalah bagian dari sejarah kota Medan.
Memasuki rumah peninggalan Tjong A Fie ini, kita
akan disambut sepasang patung singa yang berdiri
di depan pintu rumah. Halaman rumah tersebut
sangat luas dengan berbagai macam tanaman
bunga. Masuk ke dalam rumah, kemegahan
konglomerat Cina jaman dulu ini masih tersisa.
Barisan foto-foto yang dipajang di ruangan tamu
bisa bercerita banyak. Ada beberapa foto Tjong A
Fie dengan Sultan Deli, penguasa Tanah Deli saat
itu. Juga pose Tjong A Fie di beberapa bagian
rumahnya yang penuh dengan barang-barang
antik dari Cina. Sayang, kini barang-barang
seperti lemari dan kursi-kursi antik itu sudah tidak
ada lagi. Cucu-cucu Tjong A Fie, katanya, menjual
barang-barang tersebut untuk memenuhi
kebutuhan hidup.Bangunan kuno bersejarah
peninggalan Tjong A Fie memang kurang terurus.
Mungkin karena desakan pengembangan kota
Medan, rumah Tjong A Fie juga jadi tak nyaman
lagi dipandang. Pagar besi dan pintu kayu setinggi
10 meter yang membentengi rumah sudah
berhimpitan langsung dengan jalan raya. Tak
menyisikan bahu jalan sedikitpun.
Kepala Orang Cina Tanah Deli
Tjong A Fie merantau ke Tanah Deli —yang dijuluki
het dollar land— hanyalah sebagai orang Cina
perantauan biasa. Dalam buku Sejarah Medan
Tempo Doeloe yang ditulis Tengku Lucman Sinar
disebutkan Tjong A Fie datang ke Tanah Deli
bersama abangnya Tjong Yong Hian. Mereka
berangkat dari tanah kelahirannya di desa Moy
Hian, Kanton, Cina pada tahun 1875.Mula-mula
mereka membuka perkebunan tembakau dan
menetap di Labuhan Deli, sekitar 20 kilometer dari
pusat kota Medan modern. Selain membuka
perkebunan tembakau bersama abangnya, Tjong
A Fie juga membuka kedai yang melayani
kebutuhan kuli-kuli Cina daratan yang baru
datang ke Tanah Deli. Kedai tersebut, olehTjong A
Fie, diberi nama Bun Yon Tjong. Banyaknya orang-
orang Cina yang merantau membuat kedai Bun
Yon Tjong semakin ramai dikunjungi. Tjong A Fie
pun dalam sekejab jadi kaya raya.
Imperium bisnisnya kemudian menjalar kemana-
mana. Belakangan Tjong A Fie tak hanya dikenal
sebagai konglomerat Cina yang sukses di Labuhan
Deli, juga punya kekuatan politik karena
kedekatannya dengan Sultan Deli dan orang-
orang Belanda.Karena dinilai kaya raya dan punya
hubungan baik dengan Sultan Deli, pemerintah
Belanda menganugrahinya pangkat Letnan —
tercatat pada tanggal 4 September 1885. Ini
merupakan jabatan bergengsi bagi orang-orang
Cina di Tanah Deli. Tak lama kemudian Tjong A Fie
ditunjuk sebagai kepala orang-orang Cina Tanah
Deli.Karena kejeliaannya melihat peluang bisnis,
maka pada tahun 1886 Tjong A Fie kemudian
memindahkan pusat imperium bisnisnya ke
Medan. Kala itu, Medan hanyalah sebuah
kampung kecil yang berada diantara Sungai Deli
dan Sungai Babura. Pada masa itulah Tjong A Fie
membangun rumahnya di Kesawan, yang
kemudian menjadi pusat bisnis di kota Medan.
Dan sampai sekarang masih bisa dilihat puluhan
bangunan pertokoan kuno di sekitar
Kesawan.Sebagai juragan kaya raya —yang punya
kekuatan politik— Tjong A Fie jadi tokoh yang
amat dihormati di Medan. Dia juga mendirikan
rumah sakit cina pertama di Medan, namanya Tjie
On Jie Jan. Dia pulalah yang selalu bertindak
menjadi perantara jika terjadi silang sengketa
anatar orang Cina dengan tuan-tuan kebon
Belanda.
Philantropis Tjong A Fie
Setelah menjadi orang sukses di Tanah Deli, Tjong
A Fie tak lupa akan kampung halamannya. Di
propinsi Nanking, Cina, Tjong A Fie membangun
sebuah pabrik, untuk mendorong perindustrian di
sana. Atas jasa-jasanya yang begitu besar pada
Kerajaan Cina, Tjong A Fie diagkat menjadi
bangsawan dengan gelar Tjie Voe, dan pada tahun
1911 gelar itu dinaikkan lagi menjadi To
Thay.Keluhuran budi Tjong A Fie juga
diperlihatkannya ketika dia membangun kuburan
khusus untuk orang-orang Cina di Medan.
Pasalnya, ketika jalur kereta api Medan -Belawan
dibangun, Tjong A Fie sering menerima laporan
kalau para pekerja sering menemukan tengkorak
orang Cina. dan untuk menghormati jenasah
orang-orang Cina itulah, dia kemudian
membangun pekuburan Cina di daerah Pulo
Brayan, Medan.
Selain itu Tjong A Fie ternyata punya peran dalam
membangun Istana Maimoon milik Sultan Deli.
Ketika itu, sekitar tahun 1888, Sultan Deli yang
sedang berkuasa, Sultan Makmun Al Rasyid,
hendak membangun sebuah istana di Medan.
Tjong A Fie pun menyumbang dana untuk
membangun istana tersebut. Kabarnya, Tjong A
Fie menyumbang sampai 1/3 biaya pembanguan
Istana Maimoon, yang sampai sekarang masih
bisa ditemukan di jalanan yang terletak satu garis
lurus dengan istana Tjong A Fie di
Kesawan.Peninggalah Tjong A Fie di Medan yang
paling mengesankan adalah sumbangan sebuah
jam besar kepada Kotapraja Medan pada tahun
1913. Jam itu sampai sekarang masih dipajang di
Balai Kota Medan, sebuah bangunan Belanda yang
juga terletak satu garis lurus dengan rumah Tjong
A Fie, namun di ujung yang lain dari Istana
Maimoon. Jam buatan Firma Van Bergen di
Heillgerlee Belanda itu dipersembahkan Tjong A
Fie khusus untuk kota Medan.Itulah Tjong A Fie,
dan istananya.
Jadi bung sudah ke Medan, dan belum mendengar
Tjong A Fie? Memang banyak orang Medan yang
juga belum mendengar nama Tjong A Fie, tapi
bung mereka juga orang setengah Medan.
Nyatanya, Tjong A Fie itu salah satu bagian dari
Medan, bung.***
sumber: http://www.ceritanet.com/22tjong.htm